Rabu, 21 September 2016

PEMBAGIAN ILMU PENGETAHUAN



Pembagian Ilmu Pengetahuan

Berdasar beberapa argumentasi, ilmu pengetahuan dalam arti luas dibedakan sebagai berikut.
1.      Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Science) atau sering disingkat IPS yang membahas hubungan antar manusia sebagai makhluk social, yang selanjutnya dibagi atas:
a.    Psikologi, suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari proses mental dan tingkah laku.
b.   Pendidikan, suatu perlakuan atau proses latihan yang terarah dan sistematis menuju ke suatu tujuan.
c.    Antropologi, suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari asal-usul dan perkembangan jasmani, social, kebudayaan, serta tingkah laku manusia.
d.   Etnologi, suatu studi Antropologi dari aspek sistem sosio-ekonomi dan pewarisan kebudayaan terutama keaslian kebudayaan dan faktor pertumbuhan perkembangan kebudayaan, serta perubahannya dalam masyarakat primitif.
e.    Sejarah, suatu pencatatan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada suatu bangsa, negara, atau individu.
f.    Ekonomi, suatu pengetahuan yang berhubungan dengan produksi, tukar-menukar barang produksi, pengelolaan dalam ruang lingkup rumah tang, perusahaan, atau negara.
g.   Sosiologi, suatu studi tentang tingkah-laku social, terutama tentang asal-usul organisasi, institusi, dan perkembangan masyarakat.
2.   Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Alamiah (Natural Science), yang membahas tentang alam semesta dengan semua isinya dan selanjutnya terbagi atas:
a. Fisika (Physics), suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari benda tidak hidup atau mati dari aspek wujud dengan perubahan-perubahan yang bersifat sementara. Fisika secara klasik dibagi dalam mekanika, panas, bunyi, cahaya, gelombang, listrik, magnet, dan teknik mekanik, teknik sipil serta teknik listrik (arus lemah dan kuat. Ketiga ilmu yang terakhir itu merupakan Fisika terapan.
b.Kimia (Chemistry), suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari benda hidup atau tidak hidup dari aspek susunan materi dan perubahan-perubahan yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi menjadi Kimia Anorganik dan Kimia Organik. Kedua bagian itu pada dasarnya membahas dasar kesuluruhan, kemudian diikuti dengan analisis kualitatif dan kuantitatif.
Kimia-Fisika adalah ilmu pengetahuan yang lebih luas dimana Kimia dan Fisika digabungkan sedemikian rupa sehingga identitas masing-masing hilang. Batas buatan manusia antara Kimia dan Fisika menjadi kabur. Misalnya, beberapa perkembangan yang besar dalam bidang kimia teori, seperti transformasi inti atom, yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan baik dalam bidang kimia maupun fisika. Kimia terapan menghasilkan produk berupa karet sintetis, pupuk sintetis, plastik, bahan peledak, dan lain-lain.
c. Biologi (Biological Science), ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk hidup dan gejala-gejalanya. Biologi dibagi atas cabang-cabang, yang antara lain adalah:
1)      Botani, suatu cabang Biologi yang mempelajari seluk-beluk tumbuhan.
2)      Zoologi, suatu cabang Biologi yang mempelajari hewan.
3)      Morfologi, suatu studi tentang struktur luar atau bentuk-luar makhluk hidup.
4)      Anatomi, suatu studi tentang struktur-struktur –dalam atau bentuk—makhluk hidup.
5)      Fisiologi, suatu studi tentang fungsi atau faal tubuh makhluk hidup.
6)      Sitologi, suatu studi tentang sel secara mendalam meliputi struktur, molekuler, dan lain-lainnya.
7)      Histologi, suatu studi tentang jaringan tubuh atau organ makhluk hidup, yang merupakan serentetan sel yang sejenis.
8)      Palaentologi, suatu studi tentang makhluk-makhluk masa lampau yang kebanyakan hanya berupa fosil.
3.   Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa yang sering disebut IPBA (Earth Science and Space), ilmu pengetahuan yang membahas tentang bumi sebagai salah satu anggota tata surya dan ruang angkasa dengan benda angkasa lainnya. IPBA antara lain meliputi:
a. Geologi, suatu cabang IPBA yang membahas struktur bumi. Dalam pembahasannya menggunakan dasar-dasar kimia dan fisika sehingga mempelajari struktur dan perubahan materi, baik yang terdapat di permukaan tanah maupun yang terdapat dalam perut bumi. Bagian Geologi yang penting ialah: Petrologi yang membahas batu-batuan, Vulkanologi yang membahas gempa bumi, dan Mineralogi yang membahas bahan mineral atau bahan galian yang dalam pembahasannya menggunakan prinsip kimia-fisika. Suatu subcabang yang penting adalah Kristalografi yang membahas bentuk-bentuk krital dari mineral.
b. Astronomi, suatu ilmu pengetahuan yang membahas benda-benda ruang angkasa dalam alam semesta ini, yang meliputi bintang, matahari, planet, satelit, dan lain-lainnya. Penerapan astonomi ysng praktis adalah dalam navigasi, perhitungan waktu, dan kalender.
c. Geografi, suatu ilmu pengetahuan tentang muka bumi dan produk ekonomi sehubungan dengan makhluk hidup, terutama manusia. Geografi sebagai cabang ilmu pengetahuan menggabungkan informasi yang diperoleh dalam semua cabang lain, sehingga merupakan ilmu pengetahuan yang dapat dipakai manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam rangka adaptasi lingkungan. Subcabang yang penting ialah : Fisiografi yang membahas sifat fisis bumi dan Geografi biologi yang membahas kondisi hidup bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Geografi ekonomi merupakan bagian dari geografi biologi yang bersangkutan dengan perusahaan dan ekonomi.

Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia “Plesetan” di Kalangan Mahasiswa



Bahasa Indonesia merupakan bahasa melayu yang kemudian dijadikan bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa pemersatu bangsa Indonesia setelah mengalami beberapa proses dan penyempurnaan ejaan. Bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan sebagai bahasa resmi komunikasi antar bangsa yang berbeda daerah ini, kemudian diplesetkan atau dirubah cara penyebutan atau pun tulisannya oleh beberapa kalangan. Tidak merubah secara keseluruhan, akan tetapi hanya beberapa kata yang biasa digunakan untuk berkomunikasi langsung maupun tidak langsung. Hal ini diawali dari seringnya masyarakat menggunakan sosial media sebagai media berkomunikasi yang mudah, sehingga banyak kosa kata yang di “plesetkan”, entah untuk mempersingkat tulisan, mempermudah seseorang membaca, atau hanya sekedar menjadi hiburan saat berkomunikasi. Dan salah satu kalangan yang cukup banyak menggunakan bahasa “plesetan” ini adalah mahasiswa, miris memang mengingat mahasiswa adalah pemuda-pemudi calon penerus bangsa yang seharusnya melestarikan bahasa Indonesia dengan baik. Akan tetapi pada kenyataannya, mahasiswa justru sering membuat dan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah beralih dari bahasa baku menjadi bahasa tidak baku dan kemudian berubah lagi menjadi bahasa gaul atau biasa disebut bahasa alay.
Bahasa alay yang sering digunakan oleh kalangan mahasiswa ini ada berbagai macam jenisnya. Mulai dari hanya bahasa pesan yang disingkat seperti “gpl” atau gak pakai lama, “mbb” atau maaf baru balas, “cptn” atau cepetan, “dah mkn lom?” atau sudah makan belum, hingga kosa kata-kosa kata yang di ucapkan dalam pergaulan seperti  kata saya yang dibalik menjadi “ayas”, iyo yang dalam bahasa Indonesia berarti iya  diganti menjadi “oyi”. Seiring perkembangan teknologi dan kecepatan akses internet yang memudahkan mahasiswa dalam berkomunikasi satu sama lain, muncullah berbagai istilah yang terdengar aneh, asing dan lucu di telinga orang-orang yang tidak biasa mengucapkannya. Beberapa istilah yang ada di kalangan mahasiswa saat ini adalah :
1.      Baper = bawa perasaan
2.      Alay/lebay = berlebihan
3.      Gamup = gagal moveon
4.      Maho = manusia homo
5.      Anjay/anjir = kata umpatan
6.      PHP = pemberi harapan palsu
Sedangkan untuk contoh bahasa gaul/bahasa kekinian di kalangan mahasiswa saat ini ialah sebagai berikut :
1.      Ciyus = serius
2.      Cemungudh = semangat
3.      Miapah = demi apa
4.      Unyu = lucu
5.      Elo gue end
6.      Gengges = ganggu
7.      Kepo = mau tau urusan orang
Demikian lah sebagian kecil dari beribu bahasa gaul dan kekinian yang tidak asing dikalangan mahasiswa Indonesia saat ini, khususnya mahasiswa yang aktif di dunia social media.
Yang perlu kita cermati pada fenomena ini adalah bagaimana bahasa tersebut bisa diterima di kalangan masyarakat dan apakah ada dampak serius terhadap permasalahan ini, mengingat hal ini berhubungan dengan bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi identitas bangsa. Bahasa Indonesia yang telah di “plesetkan” oleh anak-anak muda calon penerus bangsa ini memang mendapat cukup banyak perhatian di kalangan masyarakat, dikarenakan bahasa tersebut mulai digunakan bukan hanya di kalangan anak muda tapi sudah mulai merambah ke dunia anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahasa-bahasa “plesetan” ini dianggap mencemari atau bahkan merusak eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang harusnya dijaga oleh para muda-mudi bangsa terutama para mahasiswa yang diharapkan akan menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari. Hal ini juga terbukti dari adanya kritik oleh 10 mahasiswa asing Jurusan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang pada Januari tahun 2015 silam. Pada hari itu sejumlah mahasiswa asing tersebut mengkritik penggunaan bahasa alay yang ada di masyarakat terutama di kalangan mahasiswa.  Salah satu dari mereka berpendapat bahwa orang Indonesia seakan tidak bangga berbicara dengan bahasa Indonesia. Mendengar hal itu disampaikan oleh mahasiswa asing, apakah mahasiswa Indonesia tidak merasa malu dan sadar bahwa penggunaan bahasa “plesetan” ini harus dikurangi bahkan dihentikan.
Disisi lain, selain membawa dampak negative dan kritikan tajam masyarakat, sebenarnya penggunaan bahasa “plesetan” ini cukup menarik perhatian saya bahwa ini membuktikan bahasa Indonesia terus berkembang dan mengalami pergeseran. Mahasiswa bukan satu-satunya yang bisa disalahkan hanya karena mereka sering menggunakan bahasa ini pada percakapan sehari-sehari, akan tetapi bahasa ini berkembang dikarenakan kebosanan siswa-siswi, bahkan mahasiswa terhadap cara pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas yang biasanya hanya membahas hal-hal yang sama selama bertahun-tahun mereka mengenyam pendidikan di negeri ini, tanpa disertai metode-metode pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dan mahasiswa biasanya hanya diminta membaca, mendengar maupun menulis, akan tetapi tidak ada metode yang mengharuskan siswa maupun mahasiswa untuk berbicara bahasa Indonesia secara baik dan benar di kawasan sekolah maupun kampus. Terkadang guru maupun dosen hanya menjelaskan dan memberikan tugas, tanpa memperhatikan apakah anak didiknya menggunakan bahasa tersebut dikesehariannya, bahkan ada pendidik yang terkadang menggunakan bahasa daerah saat sedang mengajar. Hal ini adalah salah satu penyebab kurangnya rasa cinta anak muda terhadap bahasa Indonesia.
Bagaimana mengatasinya? Kita tidak bisa serta merta menghujat anak-anak muda yang menggunakan ataupun masyarakat yang mengkritik bahasa ini. Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya menyadari bahwa bahasa kita sudah mengalami pergeseran. Kita bisa menerima hal tersebut maupun membatasinya. Tidak ada yang harus disalahkan pada fenomena ini, kita, terutama mahasiswa hanya bisa saling mengingatkan dalam penggunaan bahasa “plesetan” ini agar sesuai proporsinya. Seperti dalam pembicaraan formal, kita tidak boleh menggunakan bahasa ini sekalipun. Akan tetapi pada percakapan santai dengan teman sebaya, bahasa ini bisa digunakan dengan batasan yang harus tetap diperhatikan.