Bahasa Indonesia
merupakan bahasa melayu yang kemudian dijadikan bahasa resmi Republik Indonesia
dan bahasa pemersatu bangsa Indonesia setelah mengalami beberapa proses dan
penyempurnaan ejaan. Bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan sebagai bahasa
resmi komunikasi antar bangsa yang berbeda daerah ini, kemudian diplesetkan
atau dirubah cara penyebutan atau pun tulisannya oleh beberapa kalangan. Tidak
merubah secara keseluruhan, akan tetapi hanya beberapa kata yang biasa
digunakan untuk berkomunikasi langsung maupun tidak langsung. Hal ini diawali
dari seringnya masyarakat menggunakan sosial media sebagai media berkomunikasi
yang mudah, sehingga banyak kosa kata yang di “plesetkan”, entah untuk
mempersingkat tulisan, mempermudah seseorang membaca, atau hanya sekedar
menjadi hiburan saat berkomunikasi. Dan salah satu kalangan yang cukup banyak
menggunakan bahasa “plesetan” ini adalah mahasiswa, miris memang mengingat
mahasiswa adalah pemuda-pemudi calon penerus bangsa yang seharusnya
melestarikan bahasa Indonesia dengan baik. Akan tetapi pada kenyataannya,
mahasiswa justru sering membuat dan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah
beralih dari bahasa baku menjadi bahasa tidak baku dan kemudian berubah lagi
menjadi bahasa gaul atau biasa disebut bahasa alay.
Bahasa alay yang sering
digunakan oleh kalangan mahasiswa ini ada berbagai macam jenisnya. Mulai dari
hanya bahasa pesan yang disingkat seperti “gpl” atau gak pakai lama, “mbb” atau
maaf baru balas, “cptn” atau cepetan, “dah mkn lom?” atau sudah makan belum,
hingga kosa kata-kosa kata yang di ucapkan dalam pergaulan seperti kata saya yang dibalik menjadi “ayas”, iyo
yang dalam bahasa Indonesia berarti iya
diganti menjadi “oyi”. Seiring perkembangan teknologi dan kecepatan
akses internet yang memudahkan mahasiswa dalam berkomunikasi satu sama lain,
muncullah berbagai istilah yang terdengar aneh, asing dan lucu di telinga
orang-orang yang tidak biasa mengucapkannya. Beberapa istilah yang ada di
kalangan mahasiswa saat ini adalah :
1. Baper
= bawa perasaan
2. Alay/lebay
= berlebihan
3. Gamup
= gagal moveon
4. Maho
= manusia homo
5. Anjay/anjir
= kata umpatan
6. PHP
= pemberi harapan palsu
Sedangkan untuk contoh bahasa
gaul/bahasa kekinian di kalangan mahasiswa saat ini ialah sebagai berikut :
1.
Ciyus = serius
2.
Cemungudh = semangat
3.
Miapah = demi apa
4.
Unyu = lucu
5.
Elo gue end
6.
Gengges = ganggu
7.
Kepo = mau tau urusan orang
Demikian lah sebagian kecil dari beribu
bahasa gaul dan kekinian yang tidak asing dikalangan mahasiswa Indonesia saat
ini, khususnya mahasiswa yang aktif di dunia social media.
Yang perlu kita cermati
pada fenomena ini adalah bagaimana bahasa tersebut bisa diterima di kalangan
masyarakat dan apakah ada dampak serius terhadap permasalahan ini, mengingat
hal ini berhubungan dengan bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi identitas
bangsa. Bahasa Indonesia yang telah di “plesetkan” oleh anak-anak muda calon
penerus bangsa ini memang mendapat cukup banyak perhatian di kalangan masyarakat,
dikarenakan bahasa tersebut mulai digunakan bukan hanya di kalangan anak muda
tapi sudah mulai merambah ke dunia anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah
dasar. Bahasa-bahasa “plesetan” ini dianggap mencemari atau bahkan merusak
eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang harusnya dijaga oleh para
muda-mudi bangsa terutama para mahasiswa yang diharapkan akan menjadi pemimpin
bangsa di kemudian hari. Hal ini juga terbukti dari adanya kritik oleh 10
mahasiswa asing Jurusan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas
Muhammadiyah Malang pada Januari tahun 2015 silam. Pada hari itu sejumlah
mahasiswa asing tersebut mengkritik penggunaan bahasa alay yang ada di
masyarakat terutama di kalangan mahasiswa.
Salah satu dari mereka berpendapat bahwa orang Indonesia seakan tidak
bangga berbicara dengan bahasa Indonesia. Mendengar hal itu disampaikan oleh
mahasiswa asing, apakah mahasiswa Indonesia tidak merasa malu dan sadar bahwa
penggunaan bahasa “plesetan” ini harus dikurangi bahkan dihentikan.
Disisi lain, selain
membawa dampak negative dan kritikan tajam masyarakat, sebenarnya penggunaan
bahasa “plesetan” ini cukup menarik perhatian saya bahwa ini membuktikan bahasa
Indonesia terus berkembang dan mengalami pergeseran. Mahasiswa bukan
satu-satunya yang bisa disalahkan hanya karena mereka sering menggunakan bahasa
ini pada percakapan sehari-sehari, akan tetapi bahasa ini berkembang
dikarenakan kebosanan siswa-siswi, bahkan mahasiswa terhadap cara pembelajaran
bahasa Indonesia di dalam kelas yang biasanya hanya membahas hal-hal yang sama
selama bertahun-tahun mereka mengenyam pendidikan di negeri ini, tanpa disertai
metode-metode pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dan mahasiswa biasanya
hanya diminta membaca, mendengar maupun menulis, akan tetapi tidak ada metode
yang mengharuskan siswa maupun mahasiswa untuk berbicara bahasa Indonesia
secara baik dan benar di kawasan sekolah maupun kampus. Terkadang guru maupun
dosen hanya menjelaskan dan memberikan tugas, tanpa memperhatikan apakah anak
didiknya menggunakan bahasa tersebut dikesehariannya, bahkan ada pendidik yang
terkadang menggunakan bahasa daerah saat sedang mengajar. Hal ini adalah salah
satu penyebab kurangnya rasa cinta anak muda terhadap bahasa Indonesia.
Bagaimana mengatasinya?
Kita tidak bisa serta merta menghujat anak-anak muda yang menggunakan ataupun
masyarakat yang mengkritik bahasa ini. Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya
menyadari bahwa bahasa kita sudah mengalami pergeseran. Kita bisa menerima hal
tersebut maupun membatasinya. Tidak ada yang harus disalahkan pada fenomena
ini, kita, terutama mahasiswa hanya bisa saling mengingatkan dalam penggunaan
bahasa “plesetan” ini agar sesuai proporsinya. Seperti dalam pembicaraan
formal, kita tidak boleh menggunakan bahasa ini sekalipun. Akan tetapi pada
percakapan santai dengan teman sebaya, bahasa ini bisa digunakan dengan batasan
yang harus tetap diperhatikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar