Rabu, 21 September 2016

Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia “Plesetan” di Kalangan Mahasiswa



Bahasa Indonesia merupakan bahasa melayu yang kemudian dijadikan bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa pemersatu bangsa Indonesia setelah mengalami beberapa proses dan penyempurnaan ejaan. Bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan sebagai bahasa resmi komunikasi antar bangsa yang berbeda daerah ini, kemudian diplesetkan atau dirubah cara penyebutan atau pun tulisannya oleh beberapa kalangan. Tidak merubah secara keseluruhan, akan tetapi hanya beberapa kata yang biasa digunakan untuk berkomunikasi langsung maupun tidak langsung. Hal ini diawali dari seringnya masyarakat menggunakan sosial media sebagai media berkomunikasi yang mudah, sehingga banyak kosa kata yang di “plesetkan”, entah untuk mempersingkat tulisan, mempermudah seseorang membaca, atau hanya sekedar menjadi hiburan saat berkomunikasi. Dan salah satu kalangan yang cukup banyak menggunakan bahasa “plesetan” ini adalah mahasiswa, miris memang mengingat mahasiswa adalah pemuda-pemudi calon penerus bangsa yang seharusnya melestarikan bahasa Indonesia dengan baik. Akan tetapi pada kenyataannya, mahasiswa justru sering membuat dan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah beralih dari bahasa baku menjadi bahasa tidak baku dan kemudian berubah lagi menjadi bahasa gaul atau biasa disebut bahasa alay.
Bahasa alay yang sering digunakan oleh kalangan mahasiswa ini ada berbagai macam jenisnya. Mulai dari hanya bahasa pesan yang disingkat seperti “gpl” atau gak pakai lama, “mbb” atau maaf baru balas, “cptn” atau cepetan, “dah mkn lom?” atau sudah makan belum, hingga kosa kata-kosa kata yang di ucapkan dalam pergaulan seperti  kata saya yang dibalik menjadi “ayas”, iyo yang dalam bahasa Indonesia berarti iya  diganti menjadi “oyi”. Seiring perkembangan teknologi dan kecepatan akses internet yang memudahkan mahasiswa dalam berkomunikasi satu sama lain, muncullah berbagai istilah yang terdengar aneh, asing dan lucu di telinga orang-orang yang tidak biasa mengucapkannya. Beberapa istilah yang ada di kalangan mahasiswa saat ini adalah :
1.      Baper = bawa perasaan
2.      Alay/lebay = berlebihan
3.      Gamup = gagal moveon
4.      Maho = manusia homo
5.      Anjay/anjir = kata umpatan
6.      PHP = pemberi harapan palsu
Sedangkan untuk contoh bahasa gaul/bahasa kekinian di kalangan mahasiswa saat ini ialah sebagai berikut :
1.      Ciyus = serius
2.      Cemungudh = semangat
3.      Miapah = demi apa
4.      Unyu = lucu
5.      Elo gue end
6.      Gengges = ganggu
7.      Kepo = mau tau urusan orang
Demikian lah sebagian kecil dari beribu bahasa gaul dan kekinian yang tidak asing dikalangan mahasiswa Indonesia saat ini, khususnya mahasiswa yang aktif di dunia social media.
Yang perlu kita cermati pada fenomena ini adalah bagaimana bahasa tersebut bisa diterima di kalangan masyarakat dan apakah ada dampak serius terhadap permasalahan ini, mengingat hal ini berhubungan dengan bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi identitas bangsa. Bahasa Indonesia yang telah di “plesetkan” oleh anak-anak muda calon penerus bangsa ini memang mendapat cukup banyak perhatian di kalangan masyarakat, dikarenakan bahasa tersebut mulai digunakan bukan hanya di kalangan anak muda tapi sudah mulai merambah ke dunia anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahasa-bahasa “plesetan” ini dianggap mencemari atau bahkan merusak eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang harusnya dijaga oleh para muda-mudi bangsa terutama para mahasiswa yang diharapkan akan menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari. Hal ini juga terbukti dari adanya kritik oleh 10 mahasiswa asing Jurusan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang pada Januari tahun 2015 silam. Pada hari itu sejumlah mahasiswa asing tersebut mengkritik penggunaan bahasa alay yang ada di masyarakat terutama di kalangan mahasiswa.  Salah satu dari mereka berpendapat bahwa orang Indonesia seakan tidak bangga berbicara dengan bahasa Indonesia. Mendengar hal itu disampaikan oleh mahasiswa asing, apakah mahasiswa Indonesia tidak merasa malu dan sadar bahwa penggunaan bahasa “plesetan” ini harus dikurangi bahkan dihentikan.
Disisi lain, selain membawa dampak negative dan kritikan tajam masyarakat, sebenarnya penggunaan bahasa “plesetan” ini cukup menarik perhatian saya bahwa ini membuktikan bahasa Indonesia terus berkembang dan mengalami pergeseran. Mahasiswa bukan satu-satunya yang bisa disalahkan hanya karena mereka sering menggunakan bahasa ini pada percakapan sehari-sehari, akan tetapi bahasa ini berkembang dikarenakan kebosanan siswa-siswi, bahkan mahasiswa terhadap cara pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas yang biasanya hanya membahas hal-hal yang sama selama bertahun-tahun mereka mengenyam pendidikan di negeri ini, tanpa disertai metode-metode pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dan mahasiswa biasanya hanya diminta membaca, mendengar maupun menulis, akan tetapi tidak ada metode yang mengharuskan siswa maupun mahasiswa untuk berbicara bahasa Indonesia secara baik dan benar di kawasan sekolah maupun kampus. Terkadang guru maupun dosen hanya menjelaskan dan memberikan tugas, tanpa memperhatikan apakah anak didiknya menggunakan bahasa tersebut dikesehariannya, bahkan ada pendidik yang terkadang menggunakan bahasa daerah saat sedang mengajar. Hal ini adalah salah satu penyebab kurangnya rasa cinta anak muda terhadap bahasa Indonesia.
Bagaimana mengatasinya? Kita tidak bisa serta merta menghujat anak-anak muda yang menggunakan ataupun masyarakat yang mengkritik bahasa ini. Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya menyadari bahwa bahasa kita sudah mengalami pergeseran. Kita bisa menerima hal tersebut maupun membatasinya. Tidak ada yang harus disalahkan pada fenomena ini, kita, terutama mahasiswa hanya bisa saling mengingatkan dalam penggunaan bahasa “plesetan” ini agar sesuai proporsinya. Seperti dalam pembicaraan formal, kita tidak boleh menggunakan bahasa ini sekalipun. Akan tetapi pada percakapan santai dengan teman sebaya, bahasa ini bisa digunakan dengan batasan yang harus tetap diperhatikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar